Saturday, September 1, 2007

Breaking the Myths


Masih berkaitan dgn posting gue yg lalu, yg buat sebagian orang mungkin terkesan arogan. Yup, there is a thin line between being opened and being arrogant. Gue hanya tidak yakin gue bisa berhenti sebelum meneriakkan pesan-pesan ini buat semua orang Indonesia. So let’s break the myths, mitos-mitos yg biasanya ada di kepala kita karena kondisi dan keadaaan, dan juga karena pengaruh pola pikir orang-orang di sekitar kita.


It was not because of luck
Gue rasa ini sudah dibahas panjang di posting gue sebelumnya. It was not because of luck. Semua hal bisa dicapai dgn kerja keras, dedikasi, strategi, pengorbanan dan lain-lain. Dan ketika waktunya tiba, kita harus mengambil keputusan yg mungkin terlihat sulit pada saat itu harus diputuskan, yakini keputusan itu dan terima semua konsekuansi.


Chance must be created, not to be waited
Kesempatan bisa diperoleh jika kita berusaha untuk menciptakannya. There is no such thing as free lunch. Kalo tidak berusaha jangan menyalahkan orang lain atau berkata bahwa seseorang dapat kesempatan yg lebih baik dari kita. Mari lihat apa yg kita ingin capai, kesempatan seperti apa yg kita butuhkan, dan mulailah membangun strategi dan rencana untuk bisa mendapat kesempatan itu

Asking question won’t show our weakness

Bertanya itu bukan suatu kelemahan. Jujur saja, gue sering melihat persepsi yg salah ini di banyak orang Indonesia yg gue temui. Tentunya kita juga harus belajar bertanya yg benar. Informasi adalah hal paling mahal saat ini, pastikan kita tahu cara mendapat informasi. Dan bertanyalah setelah kita melakukan homework, googling dan research. Ajukan pertanyaan yg tepat kepada sumber yg tepat.


Everyone needs help sometime, even Spiderman
Ucapan MJ ke Peter Parker aka Spiderman ini bener banget. Kita tidak bisa hidup sendirian. Jadi tidak ada salahnya minta tolong ke orang lain. Join community. Saling membantu. Saling share informasi. Jika kita tau sedikit lebih banyak ttg sesuatu, sampaikan ke orang lain, dan kita akan mendapat lebih banyak lagi dari orang lain. Jangan takut untuk tersisihkan karena berbagi informasi. Hal ini seharusnya menjadi pemicu untuk terus belajar, dan bisa memberikan informasi lebih banyak buat yg lain.
“Sampaikanlah walaupun hanya satu IOS command”.


We are not inferior nation
Jangan pernah coba-coba bilang ke gue kalo Bule pasti lebih jago dan punya skill lebih dari kita. Selama sekitar 6 tahun gue hidup di luar negri dan bekerja dgn orang-orang dari berbagai negara lain, gue tahu persis bahwa orang-orang Indonesia itu tidak kalah. Bahkan IT engineer kita lebih jago karena biasanya tahu berbagai disiplin ilmu sekaligus. Kelemahannya cuman satu: perasaan minder.
Stop thinking like that, we are not an inferior nation. We can be anything, we can even go to the moon if we want to.


It’s all about impression
Masih berkaitan dgn point sebelumnya, kenapa Cina dan India mendapat predikat sebagai negara penghasil IT engineer terbaik? Karena persepsi. Beberapa orang dari mereka bekerja sangat keras dan dunia menganggap bahwa mereka semua seperti itu. It’s all about impression. We have to believe in ourselves, and nothing is impossible. The boundary of our ability is in our mind. Pada saat kita bekerja di luar negri atau dgn orang dari negara lain, perlihatkan bahwa bangsa kita tidak kalah. And we all have potential to become the “marketing agent” for our country.


Comfort Zone is dangerous
Comfort Zone adalah suatu posisi dimana kita merasa sangat nyaman dalam hidup. Beware, it’s a very dangerous zone. Pada saat kita merasa nyaman dgn apa yg kita dapatkan biasanya kita akan berhenti untuk berjuang. Biasanya kita menjadi terlena. Banyak orang yg merasa comfort zone is the end of life, the end of the tunnel. Jika memang berpikiran seperti itu, ya silahkan. Tapi jika kita masih ingin hidup di dunia IT yg pace nya sangat cepat, berhenti di comfort zone berarti berpotensi untuk tersisihkan. Silahkan ambil keputusan dan terima konsekuensinya jika memang ini yg diinginkan.


Shortcut is evil
Untuk terus menyemangati hidup kita, selalu baca-baca ttg sejarah hidup orang lain. Coba analisa bagaimana seseorang itu bisa mencapai apa yg dia raih sekarang. When we look at a successful band like Ungu, try to see what they have been trough to achieve it. Konser musik yg sangat bagus selama 2 jam barangkali adalah hasil bebulan-bulan latihan dan perencanaan yg matang. Tidak pernah ada shortcut atau jalan singkat. Jangan pernah bermimpi untuk hidup mewah ala sinetron tanpa ada perjuangan.

Envy, on the other hand, is good if you know why

Gue sering bilang ke orang-orang “perasaan iri itu bagus”. Envy is even better. Merasalah iri ke gue, atau ke Pasha Ungu, ke teman-teman Indo yg kerja di luar negri, atau ke orang-orang lain yg lu pikir berada di kondisi idaman atau posisi yg lebih baik. Mengapa bagus? Karena butuh rasa iri untuk memacu semangat. Jadikan perasaan envy itu sebagai hal yg positif. Dan tentunya jgn sampai iri tidak beralasan. Atau jatuh sakit karena melihat orang lain berada di kondisi yg lebih baik :) Punyalah rasa iri dan ingin menjadi seperti orang yg kita envy dgn cara berjuang tentunya.

Everyone needs something to be proud of

Hiduplah dengan memiliki suatu kebanggaan. Sekali lagi, ada garis tipis untuk menjadi pamer atau arogan. Tapi tanpa kebanggaan, sulit untuk mencapai apa yg kita inginkan. Kejarlah kebanggaan itu. Setelah tercapai, nikmati sejenak dan mulailah mengejar kebanggaan yg lain.
Gue merasa belum sukses dan belum mencapai apa-apa. Gue juga belum merasa sudah menjadi expert. Namun gue bangga bisa menjadi orang Indonesia pertama yg jadi Triple CCIE. Gue bangga dgn semua usaha yg sudah gue lakukan untuk mencapai itu. Menurut Cisco, per Agustus 2007 hanya ada 200-an orang di dunia yg punya 3 CCIE atau lebih. Banggalah dan berhenti sejenak untuk menikmatinya. Setelah itu? Mari kejar kebanggaan lain.


I think that’s all for now.


Dan buat yg tertarik ingin tahu bagaimana perjalanan Triple CCIE gue dalam 6 tahun, dimulai dari lab pertama di Brussels 13 Agustus 2001 sampai ke lab terakhir di Brussels juga 13 Agustus 2007, bisa baca Triple CCIE, History in the Making di blog gue yg lain.



Tuesday, July 31, 2007

13 Agustus 6 Tahun Lalu


13 Agustus, 6 tahun lalu.
Gue masih inget itu adalah hari pertama dari CCIE lab exam pertama gue di Brussels. Enam tahun lalu itu juga merupakan kali pertama gue terbang ke Eropa. Kali pertama dapat Schengen Visa. Kali pertama naek kelas business karena peraturan IBM, company gue waktu itu, untuk setiap karyawan harus menggunakan kelas business jika terbang lebih dari 8 jam.


Waktu itu ujian CCIE lab masih 2 hari. Jika gagal di hari pertama maka tidak bisa melanjutkan ke hari kedua. Jika berhasil lulus ujian hari kedua sesi pagi maka akan lanjut ke sesi terakhir yaitu troubleshooting. Gue berhasil masuk ke sesi troubleshooting, tapi kemudian gagal.


Kenapa gue gagal? Karena waktu itu gue gak yakin gue bisa lulus. Sebelum gue berangkat semua orang bilang kalo CCIE itu susah bgt. Semua orang bilang CCIE itu cuman buat orang-orang terseleksi. Hanya orang-orang pintar yg bisa lulus. Dan gue, bukan bagian dari orang-orang itu.


Pada saat gue berhasil sampai ke sesi troubleshooting, walaupun kemudian gagal juga, gue menyadari sesuatu. Bahwa sangat bodoh sekali gue sudah mendengarkan hal-hal yg negatif tersebut. Negatif, karena omongan tsb tidak bermanfaat. Negatif, karena tidak ada nilai positif apapun dari omongan tsb.


Kenyataannya, kalo seseorang memang sudah berusaha keras mempersiapkan diri untuk ujian, waktu itu gue sempet belajar sampai 16 jam karena sebulan terakhir sebelum ujian IBM berbaik hati mengijinkan gue kerja di rumah, harusnya bisa lulus bahkan di first attempt. Waktu gue berangkat ke Jepang persis sebulan kemudian, gue masuk ke CCIE lab dgn pikiran bahwa gue pasti lulus. Karena gue sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Karena gue sudah pernah melihat CCIE lab yg sebenarnya itu seperti apa ketika di Brussels. Karena gue percaya bahwa gue bisa lulus. Tentunya gue harus tetap berhati-hati untuk tidak terlalu percaya diri dan membuat gue overlook hal-hal kecil yg bisa membuat gue kehilangan poin. Dan jam 4 sore, dgn sisa waktu sejam lebih dari 2.5 jam waktu di sesi troubleshooting, gue udah keluar dari CCIE lab dgn nomer CCIE gue.


Lulus karena gue percaya bahwa gue bisa lulus.
Gagal karena gue tidak percaya bahwa gue bisa lulus.


So next time someone says: it’s really difficult to pass CCIE lab, just tell him: Piss off. Himawan said everyone can pass. And that’s the real fact. Stop listening to that kind of person.


Kurang dari 13 hari lagi gue akan ujian CCIE lab untuk Service Provider track di Brussel. Tepat tgl 13 Agustus, seperti 6 tahun lalu. Tanggal yg sama, tempat yg sama.


Apakah sejarah akan berulang? Apakah gue akan kembali gagal?


Gue belum tahu jawabannya, tunggu saja 13 hari lagi :)
Tapi yg penting sekarang kalo gue gagal pun gue tahu itu bukan karena CCIE lab itu susah. Bukan karena hanya orang-orang tertentu yg bisa lulus. Bukan pula karena gue kurang pintar. Mungkin hanya karena gue melakukan kesalahan kecil. Atau ada sesuatu yg belum gue pahami betul. Sehingga yg perlu gue lakukan adalah belajar terus dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan di lab nanti.


Dgn kesibukan dan jadwal yg padat untuk 2 minggu ke depan, strategi belajar gue tinggal satu sekarang: In Between. Gue harus belajar in between kesibukan yg satu dgn kesibukan yg lain. In between meeting dari customer yg satu dgn customer yg lain. In between jadwal penerbangan gue yg padat. Dan gue masih tetep yakin bisa lulus meskipun persiapan gue mungkin hanya 80%.


13 hari lagi.



Monday, March 5, 2007

Antara Advanced Services dan Business Units


Melanjuti tulisan gue terdahulu tentang ujung pelangi… well, sebenarnya tentang kebingungan yg sedang gue alami antara tetap bekerja di Advanced Services atau mulai mencoba melihat peluang untuk pindah ke Business Unit, akhirnya gue membuat tulisan ini. Tujuannya cuman satu: suatu ketika nanti gue mungkin kembali membaca tulisan ini yg mungkin merupakan saat dimana gue harus mengambil keputusan.


Jadi di Cisco itu kan secara garis besar organisasinya terbagi dua: bagian yg mengerjakan produk, dan bagian yg mengerjakan service. Business Unit yg mengerjakan produk, dan nantinya terbagi lagi spesifik ke produk seperti router tipe 76xx, 65xx dll. Kalo AS itu yg mengerjakan / men deliver services (AS sendiri sebenarnya bagian dari Customer Advocacy, yg punya service offering jauh lebih banyak di luar AS).


Secara brief, service yg ditawarkan team AS gue itu terbagi 2:


- Transactional atau project based
Kalo yg ini yg pada kerja di Cisco partner udah tau lah. Jadi kita bikin High Level Design (HLD), Low Level Design (LLD), implementation plan, testing plan, POC sampai project management. Bedanya dgn yg dikerjakan partner: level dari detail yg di deliver. Semua LLD atau dokumen yg lain itu dibikin detil bgt, sampe mirip kayak buku Ciscopress. Dan tentunya semua design kita udah di support oleh hardware dan IOS yg sesuai


- Subscription based
Jadi customer sign contract sama kita buat jaringannya di optimisasi, salah satu offer dari kita itu disebut Network Optimization Services (NOS). Nah ini penting buat customer jika ingin mencapai “five 9s” SLA alias 99,999% uptime di jaringannya. Biasanya yg beli tentu customer2 besar yg butuh tingkat SLA yg tinggi, meskipun mungkin tidak sampai five 9s.
Beberapa deliverables dari NOS adalah Best Practice audit, jadi jaringan customer di audit dan di compare dgn BP database kita; Software Strategy, bagaimana memilih IOS melalui proses panjang bug scrub (IOS pasti ada bug, tapi kita harus cari IOS yg bugnya paling sedikit mengenai topologi dan konfigurasi dari customer); Software security advisory; EOL and EOS notification; Design review; Ongoing consultation; Knowledge transfer dll yg akan membantu customer dalam meng optimize dan me-review arsitektur dari jaringan yg ada sekarang.
Jadi ini berbeda dgn maintenance service yg biasa ditawarkan partner, karena partner lebih fokus ke daily operation support, hardware replacement dll


Nah kerja di AS itu tantangan paling besarnya adalah: people. Customer. Ketemu customer. Grab requirements. Diskusi dan Workshop. Presentasi. POC. Argumentasi. Bikin detil design kemudian dijelaskan ke customer dll yg intinya selalu bertemu dgn another human being with high level of expectation. And not just another human being, tapi bagian paling penting dari bisnis, yaitu customer. Tantangan lainnya adalah traveling yg gila-gilaan. Musti siap kerja dari airport, di taxi maupun hotel atau starbucks (banyak juga sih yg kerjanya model gini, spt Sales atau System Engineer yg merupakan pre-sales dari product/solution)


Sedangkan kerja di Business Unit, gue butuh masukan dari teman2 yg udah duluan join spt Carlos, Rival dan Bambang, sepertinya sih yah jadi lab rat. Lebih banyak menghadapi mesin. Kalo ada bagian yg ketemu human being itu hanya terbatas dgn sesama team atau internal team lain di Cisco.
No interaction dgn customer (lihat exception di bawah entar).
Paling asik ya join business unit di produk yg interesting, kalo di Cisco Routing itu: CRS-1 BU, GSR BU (Rival), 76xx BU, 65xx BU (Bambang). Banyak teknologi menarik di access layer products tapi kayaknya bintangnya masih tetap yg di atas itu.


Nah ada orang yg baca tulisan Ujung Pelangi dan ninggalin comment sbg berikut:


sekedar menambahkan, apa rasanya kerja di BU … see if you like it … I hope this can help you to decide whether this is something that you want to do.


Orang2 di BU selalu sibuk dikejar2 sama tanggal & deadline … banyak sekali kerjaan tapi resources (staff) yg di-alokasikan sangat minim …


- sibuk meeting & manage request from account teams yg demanding untuk di-prioritaskan
- sibuk me-manage expectation dari orang2 yg kadang2 unreasonable with the road map and target
- sibuk prioritize feature mana yang harus di-release duluan, dan yang mana yg strategic/tactical, dan yang mana yang make good business justification
- sibuk nulis bug fixes, and release new code
- sibuk bikin competitive analysis
- sibuk bikin documentation, technical notes
- sibuk bikin presentation, kasih presentation dan training ke sales SE
- banyak re-organization … jadi merasa posisi kerjaan nggak menentu


Comment by it’s me — February 21, 2007 @ 8:00 pm


Yah kalo masalah pressure, tentu di AS maupun BU akan banyak pressure walaupun macam tekanannya berbeda. Masalah minim resource juga sama, masalah re-organization. ..boss gue udah ganti di bulan ke-2 gue kerja :D


Kalo menurut gue bedanya kerja di AS maupun BU tetep di: customer facing atau tidak. Di AS jelas kita jadi bumper, di front line buat ngadepin customer yg mungkin melihat kita sbg Cisco gak perduli dari BU atau tidak (khususnya ketika nanya kenapa IOS feature tertentu gak di support)


Ada satu posisi di BU yg gue tahu merupakan kombinasi dari ke-2 nya, posisi yg disebut Technical Marketing Engineer (TME). Ada temen gue yg jadi ini dan dia cerita kalo dia juga harus bertemu customer buat me-list feature2 apa yg kira2 dibutuhkan di IOS release berikutnya, dan juga harus mengerti deep down technically karena harus diskusi dgn developer juga.
Selain tentunya paling sering di “bantai” oleh bumper-bumper kayak AS atau pre-sales team, SE, jika ada feature gak masuk akal yg di release sedangkan yg diperlukan malahan gak ada.


Banyak orang2 yg kita kenal karena menulis buku Ciscopress spt Dmitry Bokotev, Ajay Simha, termasuk si Jeff Apcar salah satu Distinguished Engineer yg tetap berada di Cisco AS. Sebagian penulis buku lainnya berasal dari Business Unit. Biasanya keliatan kalo pengarangnya dari AS itu lebih mengarah ke implementasi dan integrasi suatu produk atau design guidelines, dgn contoh2 case study yg diambil dari pengalaman di lapangan.


Jadi ini bukan tulisan ttg mana yg lebih baik: AS atau BU, tapi lebih mengarah ke apa yg bisa bikin kita happy kerja di situ.


Pada intinya, kita selalu berharap bisa kerja di sesuatu hal yg kita sukai kan, mengharap apa yg kita kerjakan dan yakini adalah Ujung Pelangi kita. Dan sampai sekarang gue belum tahu apakah gue perlu pindah ke BU, masih mencari alasan yg bisa meyakinkan kalo gue bakal happy di sana (silahkan baca lagi tulisan Ujung Pelangi).


Karena, walaupun dari internal email yg gue terima tadi malem ada puluhan slot lowongan buat NCE di US, gue percaya bahwa:
- ngapain ke US kalo gak ke SV
- ngapain ke SV kalo gak ke business unit
- ngapain ke business unit kalo gak yg menarik spt CRS, GSR, 76xx, 65xx (kalo kerja di Cisco, kalo di vendor lain ya di top of the line product nya lah)


Jadi intinya, gue merasa tidak tertarik pindah jadi NCE juga biarpun ke US, mendingan di APAC kali yah.
Jadi punya kesempatan buat membantu customer Indo juga… membangun bangsa lah walaupun dikit heheh


Mungkin harus nunggu film Transformers dulu sebelum bisa men transform hidup kita :)



Tuesday, December 19, 2006

Menikah Lagi


“maafkan aku menduakan cintamu
berat rasa hatiku tinggalkan dirinya
dan demi waktu yang bergulir di sampingmu
maafkanlah diriku sepenuh hatimu
seandainya bila ku bisa memilih..”
Song by Ungu, Demi Waktu


Beredarnya isu poligami akhir-akhir ini di banyak media membuat gue teringat akan pengalaman pribadi dalam menikah lagi. Yup, sejak sekitar 1 bulan yg lalu gue resmi menikah lagi di Singapore.


Semuanya berawal di awal tahun 2000. Walaupun pada saat itu gue sudah beristri dan beranak satu, gue sempat terperangah ketika bertemu dengannya. Love at the first sight, seperti kata banyak orang. Semenjak pertemuan pertama itu gue memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Hubungan tersebut membuat gue memutuskan untuk meninggalkan anak istri gue di kota lain. Gue bertemu mereka hanya sekitar 2 minggu sekali. Berbagai rintangan berat gue jalanin, termasuk tidur di meja kantor selama 9 bulan hanya demi bersama dengannya.


Setelah 2 tahun bersama, gue memutuskan untuk pindah ke Middle East demi menjaga kelangsungan hubungan dgn dirinya. Anak istri gue kali ini ikut serta karena jarak negara yg sangat jauh. Sampai saat itu istri pertama gue mulai merasakan perbedaan dalam diri gue. Gue yg menjadi sering pulang malam, dan setelah di rumah pun gue jarang sekali tidur. Gue lebih sering melakukan aktifitas rahasia untuk bisa bersamanya daripada menghabiskan waktu bersama anak istri. Pertanyaan-pertanyaan di diri istri pertama gue akhirnya berujung dgn pertengkaran-pertengkaran yg tak bisa dihindari. Namun ini tidak membuat gue ingin memutuskan hubungan, semakin hari gue malah semakin sering bersamanya.
Beberapa kali malahan gue pergi ke Eropa hanya demi dirinya.


Akhirnya di pertengahan tahun ini gue berterus terang ke istri pertama gue, bahwa cinta di diri gue memang sudah terbagi. Dan gue memutuskan untuk menikah lagi secara resmi. Berat bagi istri pertama gue untuk menerima. Berbulan-bulan kita bertengkar, berdiskusi, berdebat tentang hal tersebut. Kata orang kunci dari poligami adalah keadilan. Tapi satu kata ini terlihat sangat sulit untuk dilakukan, tercermin dari hidup gue di beberapa tahun terakhir yg lebih jarang bersama anak dan istri pertama tapi lebih sering bersama dirinya.


Namun akhirnya setelah pembicaraan yg panjang akhirnya istri pertama gue menyetujui juga. Dengan berlapang hati istri pertama gue mengijinkan pernikahan gue demi kebagiaan gue, yg dia harapkan akan berdampak pada kebahagiaan kita sekeluarga semua. Tanggalpun ditetapkan di hari Senin, November 20 2006. Lokasi pernikahan adalah di Singapore.


Hingga kini gue terus berusaha untuk bersikap adil kepada ke dua istri gue. Berat untuk dijalankan, terutama karena istri muda gue menawarkan banyak tantangan dan hal-hal yg sama sekali baru untuk gue. Tapi keikhlasan dari istri pertama gue yg mengijinkan gue ber-poligami membuat gue tidak mungkin melupakan dirinya begitu saja. Mudah-mudahan gue masih bisa bertahan menjalani hidup seperti ini demi kebahagiaan kita semua.


O ya, buat yg penasaran, nama istri baru gue: Cisco Systems :)


Disclaimer: tulisan ini dibuat pada saat iseng dan masih terjaga di tengah malam. Tidak ada niatan yg tersirat maupun tersurat untuk mendukung atau mencela isu poligami yg sedang ramai dibicarakan.



Thursday, August 31, 2006

Become a CCIE with Simulator


Beberapa bulan lalu gue pernah bikin How to Become a CCIE, dan di point no.3 gue bilang kalo home lab itu perlu supaya bisa latihan kapanpun. Untungnya sekarang sudah ada Cisco 7200 simulator. Jadi kalo lagi ngejar track CCIE R&S atau Service Provider, hampir seluruh lab bisa disimulasiin, kecuali switch 3560.


Kalo menurut gue, maksain beli 3560 atau 3550 sepertinya gak worth it. Lebih baik duitnya dipakai buat rental lab beberapa hari sebelum ujian buat latihan. Dan kalo cuman mau ngetes fitur di 3550 harusnya sih cukup dalam 2-3 hari.


Mudah-mudahan dgn simulator ini makin banyak orang Indo yg bisa jadi CCIE. Sekarang nabungnya cuman buat biaya ujian dan tiket pesawat, gak harus beli lab lagi.


Untuk informasi lengkap step-by-step buat men-setup Cisco 7200 simulator di PC, silahkan klik di sini.



Monday, July 31, 2006

Kembali Harus Memilih


Karena gue gak yakin Cisco Middle East bakal ngerekrut gue, mulai minggu lalu gue mempublikasikan status diri sebagai “Available”, seseorang yg sudah resign dari company dan bersedia bekerja di mana saja. Hal ini juga terpaksa gue lakukan karena visa UAE gue hanya tinggal 2 bulan lagi, dan belum ada tanda-tanda bahwa gue akan mendapat H1b visa untuk ke US. Bulan depan anak gue udah harus sekolah lagi dan dengan kondisi seperti sekarang tentunya repot buat memastikan apakah dia akan kembali sekolah di Dubai, bertahan di Indonesia atau ikut gue ke US, kalo dapet visa.


Respon yg didapat ternyata cukup positif. Seorang teman yg juga customer company gue langsung memberikan tawaran kerja dgn gaji kurang lebih sama dgn gaji gue yg sekarang. Dan kemaren gue interview dgn 3 company sekaligus!
Sehari sebelumnya gue jatuh dan sempet pingsan di Ski Dubai. Gue jarang2 pingsan kecuali saat di bius di meja operasi. Tidak ada luka serius, tapi yg jelas gue harus interview dgn kondisi muka babak belur.


Company yg pertama sih menawarkan kerja yg sama aja dgn company gue, cuman mungkin lebih professional karena mereka multi-national. Gaji yg ditawarkan juga mungkin gak jauh.


Company yg kedua bener2 beda. Mereka perusahaan milik UAE government yg membangun dan mensetup network terbesar di Middle East. Tapi jaringan ini tidak akan pernah dipublikasikan karena berkaitan dgn keamanan negara. Dan tentunya semua hal yg gue kerjakan di sana tidak bisa didiskusikan dgn orang luar.
Tapi gue akan punya kesempatan buat mensetup jaringan dgn teknologi terbaik dan tercanggih dan juga multi-vendor.
O ya, gaji yg ditawarkan sekitar dua kali lipat gaji yg bakal gue dapet di US.


Interview ketiga lewat telepon. Perusahan telekomunikasi no.1 di dunia berbasis di UK, pasti tau donk siapa, untuk posisi IP Network Consultant. Kerja sebagai orang IP di perusahan telekomunikasi yg dulunya non-IP tapi kini harus memiliki IP-based backbone menurut gue bener-bener sangat menantang. Kerjanya nanti 90% bakalan di kawasan Middle East dan Africa, jadi pure traveling.
Interview berjalan mulus, hanya saja mereka mau mengecek apakah gue bisa dapet visa kerja sebagai engineer di bidang komputer padahal gelar sarjana gue dari Mesin.

Kembali gue harus memilih sekarang.


Kalo dulu pilihannya antara company gue yg sekarang dan kerjaan yg gak jelas di US, dan jelas aja gue pilih US. Tapi sekarang pilihannya beda:


- nekat ke US lewat consulting company dgn gaji rendah dan berharap Cisco San Jose atau Juniper tertarik buat merekrut, ini juga dgn catatan H1b gue keluar bulan ini
- bekerja di perusahan Cisco partner yg lain di UAE, multi-national sehingga kemungkinan bisa pindah2 negara tapi melakukan kerja yg mirip2 dgn apa yg gue kerjain sekarang
- nungguin perusahan telekomunikasi ini buat confirm bisa dapet visa apa enggak, kerjanya nanti bener2 mobile dan kemungkinan gue pisah sama keluarga. Tapi ini perusahaan telekomunikasi dunia no.1 loh!
- join government agency dgn gaji dua kali lipat gaji gue nanti di US, gak bisa sharing kerjaan di luar kantor, bisa punya kehidupan lain di luar kerjaan, dan berharap suatu hari ketemu dgn Agent Scully! Tapi mereka gak bisa ngasih gue waktu lama buat mikir


Kalo mau jujur, kerja buat pemerintah UAE merupakan suatu kehormatan. Bisa pergi ke Silicon Valley adalah once in a lifetime opportunity. Jadi konsultan IP buat perusahaan telekomunikasi dunia buat meng cover Middle East dan Afrika juga bener2 impian. Terakhir kalo memang udah gak ada pilihan lain, kerja di Cisco partner yg lain atau di tempat temen gue yg udah nungguin juga gak masalah.


Sayangnya gue gak punya waktu lama buat memutuskan.
I’m running out of time.