Saturday, May 3, 2008

Sebuah Pencerahan


Bukan perusahaan yg paling penting.
Yang terpenting adalah orang-orang di dalam perusahaan.
Orang-orang di perusahaan bisa mencapai hasil yg luar biasa tapi juga bisa membawa kegagalan.


Perusahaan tidak bisa mengajarkan hal baru.
Setiap orang yg direkrut di posisi menengah lah yg diharapkan membawa ide-ide baru ke perusahaan.
Orang-orang ini yg diharapkan bisa membawa nilai-nilai baru,
Yang harus membuat prosedur baru, memperbaiki proses, meng upgrade tools, dan membuat perubahan.

It’s the people inside the company who matter. It’s the people who change the way the world works, lives, plays, and learns.


Semua yg perlu diketahui untuk menjadi top-notch consultant sudah dipelajari bahkan sebelum masuk ke perusahaan.
Dan ini adalah pencerahan baru untuk hari ini.



Monday, March 31, 2008

Once a Traveler



You wake up at Kuala Lumpur, Bangkok, Singapore. You wake up at Sydney, Bali, Hanoi. San Jose, Hongkong, Jakarta, Ho Chi Minh. Lose an hour, gain an hour. This is your life, and it’s ending one minute at a time. You wake up at Changi International. If you wake up at a different time, in a different place, could you wake up as a different person?
(Fight Club, modified with the places I visited in the last few months)


I’m a traveler as well as a consulting engineer, a dreamer, a blogger, a backpacker, and a storyteller.


My traveling experience:
Hotel: Shangri-La (80%), Hilton, Hyatt, Ritz Carlton, Intercontinental, Swissotel, Sheraton, Le Meridien, Four Season, Holiday Inn, Westin, Crown Plaza, Conrad, Sofitel, Excelsior
Airline: Singapore Air (90%), Malaysia Air, Thai Air, Air Asia, Garuda, Jet Star Asia/Valuair, Emirates Air, Vietnam Air
Membership: Singapore Air KrisFlyer/Star Alliance Elite Gold, Shangri-La Gold, Hyatt Gold, Starwood Preferred Guest
Privileges: Airport business lounge, priority check-in/luggage, upgraded hotel room, free staying in hotel, miles
Travel style: Light. First priority is for passport, wallet and mobile phone. Second priority is for Cisco badge, notebook, chargers, iPod. Third, my backpack where I keep all the rest. In fact, everything that I need for living outside the country I put it inside this North Face backpack
Favorite airport: Changi International
Favorite cities: San Francisco, Amsterdam, Sydney, Dubai, Bangkok
Best flying experience: A380 to Sydney
Longest flying time: San Francisco - Sydney (via Hongkong and Singapore)
Longest stay in city during one visit: 3 weeks (Sydney)


I decided to go full mobile even in Singapore. I decided to abandon my apartment room. I decided to stay in the hotel everytime I need to be in my base station, most probably in a backpacker hotel. According to my calculation if I need to spend only a week every month in Singapore in average it’s much cheaper to stay in the hotel that is closer to office than paying monthly room with taxi since my current room is on the far west side of the island. And obviously it will be more fun.


This is my life, and it’s ending one minute at a time.



Friday, March 7, 2008

How to Become a CCIE v2


Weekend ini gue ada di Singapore (jarang-jarang nih). Gara-garanya sabtu malam sudah ada schedule buat migrasi di salah satu project gue di KL, tapi karena bertepatan dgn pemilu Malaysia sehingga kegiatannya diundur. Dan pemberitahuan pembatalan ini terjadi di last minute, jadi aja gue tidak sempat merencanakan untuk pulang ke Indo dan terpaksa menghabiskan waktu sendirian weekend begini.


Akhirnya gue memutuskan untuk meng-update “How to Become a CCIE” yg versi pertamanya gue tulis 2 tahun lalu. Untuk mendukung ide tulisan gue sebelumnya supaya orang-orang mau menjadi engineer plus dan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, how-to ini tidak gue translate ke bahasa Indonesia.


In summary:


1. You need to know and believe in the reason why you want to become CCIE
2. Use mid-level certification such as CCNP, CCIP, CCSP, CCVP
3. Build home lab, use emulator to practice R&S and SP track
4. Just pass the written to be able to register for the lab
5. Read, read and read, then practice
6. It may not be required to finish as fast as possible, but can use “do it once, and do it right” strategy
7. Join the community, build a healthy discussion group
8. Learn how to ask the right question, to discussion group or proctors
9. Understand the lab questions, analyze it as a whole and a unit
10. Be skeptical, don’t trust the solution unless you have proved it
11. CCIE is a mind game, always believe that you can pass
12. Enjoy every moment while doing the journey


Please read the english version of How to Become a CCIE v2 in my other blog.



Thursday, January 3, 2008

Internetwork Expert’s CCIE Blog


Blog yg sangat direkomendasikan untuk para calon CCIE:


“This site is dedicated to helping you in your pursuit of becoming a Cisco Certified Internetwork Expert in Routing & Switching, Voice, Security, Service Provider, and Storage. Through this blog you can submit questions to our expert instructors, Brian Dennis - Quad-CCIE #2210, and Brian McGahan – Triple CCIE #8593″



Friday, November 30, 2007

Enjoy Sydney


Sudah sebulan lebih gue berada di jalan. Dua minggu terakhir gue sibuk bekerja di Cisco Proof-of-Concept lab di Sydney untuk ikut menguji produk CRS, termasuk yg multi-chassis. Lucunya, hanya sedikit orang yg percaya kalo gue itu benar-benar kerja selama di Sydney.


Orang selalu mengasumsikan bahwa traveling di luar negri itu identik dengan jalan-jalan dan having fun. It’s fun indeed, tapi definisi fun kan beda-beda. Buat gue, kerja under pressure dgn timeline yg mendesak itu fun. Regardless gue kerja di negara apa. Tentunya orang cuman mencibir kalo gue bilang begini. Terutama karena Sydney banyak tempat-tempat menarik, berbeda dgn San Jose yg merupakan kota kecil yg minim hiburan. Bahkan boss gue sendiri pas nelpon sempat bilang “have fun, enjoy Sydney.”


Karena itu gue sekarang ingin cerita sedikit apa yg sudah gue lihat di Sydney 2 minggu terakhir. Gue sempat ke Bondi beach dan di sana banyak wanita-wanita cantik seperti yg 3 ini:



Banyak wanita berpakaian minim sehingga terlihat punggung-punggung mereka yg terbakar sinar matahari:



Tidak cuman orang dewasa, anak-anak pun ada:



Mereka datang dari berbagai negri, dgn warna rambut yg berbeda-beda: merah, kuning, biru, orange.



Sebagian hanya tidur-tiduran di pasir membentuk barisan:



Sebagian yg lain bermain dgn ombak:



Penjaga pantai sibuk mengawasi dari tempat yg tinggi:



Ribuan orang datang dan pergi setiap hari:



In case you didn’t notice, I was being sarcastic :)


Dua minggu terakhir gue hanya tidur beberapa jam sehari. Pulang dari lab selalu larut malam dan beberapa kali lewat midnight, untuk kemudian kerja lagi di hotel. Weekend pun gue pergunakan untuk nongkrong di lab atau kerja di hotel. Tentu saja tidak akan ada yg percaya jadi gue juga tidak perlu berlarut-larut menjelaskan.


Minggu ini ada beberapa teman dari Indonesia yg akan datang. Sepertinya gue baru bisa jalan-jalan beneran beberapa hari ke depan.


Enjoy Sydney!



Sunday, November 4, 2007

Antara Specialist dan General Purpose


Untuk menjadi expert, seseorang harus menjadi specialist di satu bidang. Ini berarti orang tsb harus fokus dan mendedikasikan diri di scope area tertentu. Kelemahannya, orang ini akan sangat expert di suatu bidang tapi mungkin idiot di bidang ya lain. Kalo dari segi network engineering, menjadi spesialis di satu bidang membutuhkan pertaruhan apakah bidang tsb masih akan ada di masa depan. Jika tidak, maka siap-siap untuk jobless atau pindah ke bidang yg lain. Start over. Dan sudah pasti tidak jadi expert lagi untuk sementara.


Orang yg bekerja sbg network consultant atau solution architect adalah orang-orang yg gue sebut General Purpose. Karena mereka biasanya tahu banyak area di networking, berbagai product dari verndor yg berbeda, dan untuk true architect sangat penting untuk mengetahui cara mengintegrasikan itu semua. Mereka general purpose karena bisa bekerja di area atau teknologi networking apa saja. Tidak perlu kuatir masalah kerjaan. Tapi satu hal yg jelas, tidak akan pernah bisa menjadi expert seperti yg memilih untuk menjadi specialist.


Mana yang lebih baik? Tergantung kita ingin jadi apa.


Yang jelas, kalo melihat dari apa yg sedang gue jalanin sekarang, kalo gue ingin jadi consultant atau architect, maka gue harus terus mengambil semua CCIE track sampai tamat. Karena sampai sekarang gue sudah tahu networking untuk area Enterprise (CCIE track R&S), Network Security (track Security), dan brief technology di Service Provider (CCIE track SP). Dengan mempelajari area Enterprise Voice (CCIE Voice) dan Data Center (CCIE Storage) maka gue akan menjadi a complete toolset, seseorang yg tahu berbagai area networking. Ditambah lagi skill wireless network, operating systems, network and security management sampai ke kompetensi gue di consulting, pre-sales skills dan technical project management.


Kesempatan gue untuk ambil CCIE lagi? Sangat besar. Cisco akan membayar semua expense gue untuk jadi CCIE, gue punya materi internal training, semua buku, lab yg walaupun tidak komplit tapi bisa digunakan (atau bisa juga online rental lab di Internet dan dibayarin Cisco), biaya ujian dan semua perjalanan yg akan ditanggung. Zero percent expense buat jadi orang Indonesia pertama yg punya 4 atau 5 CCIE. Dan begitu lulus, Cisco akan memberikan kompensasi uang tunai $. Tapi hanya itu. Karena begitu seseorang masuk Cisco tidak begitu kelihatan manfaat punya banyak CCIE (baca: punya CCIE itu tetap penting di Cisco, tapi punya multiple CCIE tidak). Yang paling penting adalah performance kita dalam bekerja. Multiple CCIE penting kalo kita mau jadi General Purpose. Dan mengambil CCIE akan membuat gue tidak akan fokus. Ini juga berarti gue tidak kan menjadi specialist di bidang apapun. Dan ini membuat gue tidak akan pernah mencapai level expert.


Jadi keliatannya gue tidak akan meneruskan CCIE journey, jika masih berkeinginan untuk jadi expert spt yg gue tulis di profile blog ini.
Unless someone can give me a very good reason to do so.



(Golden Gate Bridge, San Francisco)



Saturday, September 1, 2007

Breaking the Myths


Masih berkaitan dgn posting gue yg lalu, yg buat sebagian orang mungkin terkesan arogan. Yup, there is a thin line between being opened and being arrogant. Gue hanya tidak yakin gue bisa berhenti sebelum meneriakkan pesan-pesan ini buat semua orang Indonesia. So let’s break the myths, mitos-mitos yg biasanya ada di kepala kita karena kondisi dan keadaaan, dan juga karena pengaruh pola pikir orang-orang di sekitar kita.


It was not because of luck
Gue rasa ini sudah dibahas panjang di posting gue sebelumnya. It was not because of luck. Semua hal bisa dicapai dgn kerja keras, dedikasi, strategi, pengorbanan dan lain-lain. Dan ketika waktunya tiba, kita harus mengambil keputusan yg mungkin terlihat sulit pada saat itu harus diputuskan, yakini keputusan itu dan terima semua konsekuansi.


Chance must be created, not to be waited
Kesempatan bisa diperoleh jika kita berusaha untuk menciptakannya. There is no such thing as free lunch. Kalo tidak berusaha jangan menyalahkan orang lain atau berkata bahwa seseorang dapat kesempatan yg lebih baik dari kita. Mari lihat apa yg kita ingin capai, kesempatan seperti apa yg kita butuhkan, dan mulailah membangun strategi dan rencana untuk bisa mendapat kesempatan itu

Asking question won’t show our weakness

Bertanya itu bukan suatu kelemahan. Jujur saja, gue sering melihat persepsi yg salah ini di banyak orang Indonesia yg gue temui. Tentunya kita juga harus belajar bertanya yg benar. Informasi adalah hal paling mahal saat ini, pastikan kita tahu cara mendapat informasi. Dan bertanyalah setelah kita melakukan homework, googling dan research. Ajukan pertanyaan yg tepat kepada sumber yg tepat.


Everyone needs help sometime, even Spiderman
Ucapan MJ ke Peter Parker aka Spiderman ini bener banget. Kita tidak bisa hidup sendirian. Jadi tidak ada salahnya minta tolong ke orang lain. Join community. Saling membantu. Saling share informasi. Jika kita tau sedikit lebih banyak ttg sesuatu, sampaikan ke orang lain, dan kita akan mendapat lebih banyak lagi dari orang lain. Jangan takut untuk tersisihkan karena berbagi informasi. Hal ini seharusnya menjadi pemicu untuk terus belajar, dan bisa memberikan informasi lebih banyak buat yg lain.
“Sampaikanlah walaupun hanya satu IOS command”.


We are not inferior nation
Jangan pernah coba-coba bilang ke gue kalo Bule pasti lebih jago dan punya skill lebih dari kita. Selama sekitar 6 tahun gue hidup di luar negri dan bekerja dgn orang-orang dari berbagai negara lain, gue tahu persis bahwa orang-orang Indonesia itu tidak kalah. Bahkan IT engineer kita lebih jago karena biasanya tahu berbagai disiplin ilmu sekaligus. Kelemahannya cuman satu: perasaan minder.
Stop thinking like that, we are not an inferior nation. We can be anything, we can even go to the moon if we want to.


It’s all about impression
Masih berkaitan dgn point sebelumnya, kenapa Cina dan India mendapat predikat sebagai negara penghasil IT engineer terbaik? Karena persepsi. Beberapa orang dari mereka bekerja sangat keras dan dunia menganggap bahwa mereka semua seperti itu. It’s all about impression. We have to believe in ourselves, and nothing is impossible. The boundary of our ability is in our mind. Pada saat kita bekerja di luar negri atau dgn orang dari negara lain, perlihatkan bahwa bangsa kita tidak kalah. And we all have potential to become the “marketing agent” for our country.


Comfort Zone is dangerous
Comfort Zone adalah suatu posisi dimana kita merasa sangat nyaman dalam hidup. Beware, it’s a very dangerous zone. Pada saat kita merasa nyaman dgn apa yg kita dapatkan biasanya kita akan berhenti untuk berjuang. Biasanya kita menjadi terlena. Banyak orang yg merasa comfort zone is the end of life, the end of the tunnel. Jika memang berpikiran seperti itu, ya silahkan. Tapi jika kita masih ingin hidup di dunia IT yg pace nya sangat cepat, berhenti di comfort zone berarti berpotensi untuk tersisihkan. Silahkan ambil keputusan dan terima konsekuensinya jika memang ini yg diinginkan.


Shortcut is evil
Untuk terus menyemangati hidup kita, selalu baca-baca ttg sejarah hidup orang lain. Coba analisa bagaimana seseorang itu bisa mencapai apa yg dia raih sekarang. When we look at a successful band like Ungu, try to see what they have been trough to achieve it. Konser musik yg sangat bagus selama 2 jam barangkali adalah hasil bebulan-bulan latihan dan perencanaan yg matang. Tidak pernah ada shortcut atau jalan singkat. Jangan pernah bermimpi untuk hidup mewah ala sinetron tanpa ada perjuangan.

Envy, on the other hand, is good if you know why

Gue sering bilang ke orang-orang “perasaan iri itu bagus”. Envy is even better. Merasalah iri ke gue, atau ke Pasha Ungu, ke teman-teman Indo yg kerja di luar negri, atau ke orang-orang lain yg lu pikir berada di kondisi idaman atau posisi yg lebih baik. Mengapa bagus? Karena butuh rasa iri untuk memacu semangat. Jadikan perasaan envy itu sebagai hal yg positif. Dan tentunya jgn sampai iri tidak beralasan. Atau jatuh sakit karena melihat orang lain berada di kondisi yg lebih baik :) Punyalah rasa iri dan ingin menjadi seperti orang yg kita envy dgn cara berjuang tentunya.

Everyone needs something to be proud of

Hiduplah dengan memiliki suatu kebanggaan. Sekali lagi, ada garis tipis untuk menjadi pamer atau arogan. Tapi tanpa kebanggaan, sulit untuk mencapai apa yg kita inginkan. Kejarlah kebanggaan itu. Setelah tercapai, nikmati sejenak dan mulailah mengejar kebanggaan yg lain.
Gue merasa belum sukses dan belum mencapai apa-apa. Gue juga belum merasa sudah menjadi expert. Namun gue bangga bisa menjadi orang Indonesia pertama yg jadi Triple CCIE. Gue bangga dgn semua usaha yg sudah gue lakukan untuk mencapai itu. Menurut Cisco, per Agustus 2007 hanya ada 200-an orang di dunia yg punya 3 CCIE atau lebih. Banggalah dan berhenti sejenak untuk menikmatinya. Setelah itu? Mari kejar kebanggaan lain.


I think that’s all for now.


Dan buat yg tertarik ingin tahu bagaimana perjalanan Triple CCIE gue dalam 6 tahun, dimulai dari lab pertama di Brussels 13 Agustus 2001 sampai ke lab terakhir di Brussels juga 13 Agustus 2007, bisa baca Triple CCIE, History in the Making di blog gue yg lain.