Thursday, December 3, 2009

Project London II


Gue baru terima hasil ujian CCDE kemaren dan hasilnya negatif. Ada beberapa hal yg gue benci dari hasil tsb selain kenyataan bahwa gue gagal:


- Butuh lebih dari 3 bulan buat mendapatkan hasil ujian
- Hasilnya dikirim dgn menggunakan surat lewat pos (apa yg salah dgn hasil online? Sekarang gue bisa lihat status: Fail di website Vue tapi tidak ada email notifikasi seperti di hasil ujian CCIE)
- Hasilnya hanya menunjukkan prosentasi dari beberapa aktifitas design: gather and clarify requirement, develop network design dll. Jadi hasilnya tidak detil per teknologi atau per skenario yg membuat lebih sulit buat seorang kandidat utk mengetahui kelemahannya. Mendapat 50% di bagian develop network design, misalnya, menurut gue bukan feedback yg bagus yg bisa membantu persiapan dalam menghadapi ujian berikutnya
- Dan sampai sekarang gue belum menemukan pernyataan resmi ttg prosentasi minimum buat lulus ujian CCDE. Apakah 80% seperti CCIE?


Memang gue sudah booking ujian berikutnya hari Selasa depan di London. Tapi minggu depan itu bersamaan gue harus menyelesaikan banyak sekali dokumen utk project yg sedang gue kerjakan. Dan weekend ini gue sudah merencanakan utk pergi camping bersama anak-anak.


Gue tidak mungkin mengorbankan salah satu hal tsb utk CCDE. Jadi yg akan gue lakukan adalah pergi ke Vue testing center, mencoba utk tetap bangun selama 8 jam, dan mengandalkan sepenuhnya ke logika berpikir.


Mari kita lihat saja.



Sunday, October 25, 2009

Advanced CCIE Lab


Gue baru saja menyelesaikan ujian lab utk program sertifikasi internal dari perusahaan. Tentunya gue tidak bisa menceritakan secara detil, tapi gue ingin berbagi pendapat ttg bagaimana ujian lab yg seharusnya, berdasarkan pengalaman gue ujian lab kemarin.


Gue pernah bilang bahwa sertifikasi tidak ada artinya tanpa pengalaman. Lulus ujian lab yg sangat sulit spt CCIE put tidak langsung membuat kita menjadi expert. Sertifikasi hanya bisa membuat kita memiliki skill mendasar sbg pondasi, dan kemudian kita harus mengasah skill lebih lanjut setelah itu dgn terjun ke project yg sebenarnya dan menambah pengalaman di dunia nyata.


Tapi pernahkan kita menanyakan, seberapa jauh skill yg diujikan di lab dibandingkan dgn skill yg diperlukan utk kerja di dunia nyata? Sebagai contoh, setelah kita lulus ujian CCIE SP, apakah kita bisa langsung terjun untuk meng handle jaringan Service Provider yg besar, atau masih banyak hal-hal yg harus dipelajari terlebih dahulu?


Gue akan menuliskan pendapat gue ttg bagaimana ujian lab yg seharusnya. Seperti biasa, ini cuma pendapat pribadi. Dan pendapat seperti hidung, semua orang pasti punya satu.


1. Ujian lab seharusnya menggunakan hardware yg real


Dari daftar hardware yg digunakan di CCIE SP lab, misalnya, terlihat bahwa hardware yg digunakan bukan hardware yg biasa digunakan di SP network. Cisco 7200 memang bagus, tapi bukan buat jadi P router! Apalagi masih ada Cisco 2800 bahkan 2600 di SP lab.


SP lab seharusnya menggunakan high-end router spt CRS, ASR dan 7600. Jika beberapa CRS utk membuat lab dianggap terlalu mahal, maka satu CRS yg di partisi secara fisik dgn menggunakan konsep Secure Domain Routing juga bisa. SP besar sudah umum menggunakan IOS XR, sehingga minimal jika tidak bisa pakai CRS di lab paling tidak ada GSR XR sbg P router. Untuk PE seharusnya menggunakan ASR 9000 atau paling tidak Cisco 7600 dgn RSP dan ES+ card.
Terlalu muluk? Mungkin, tapi hardware-hardware tsb memang yg biasa digunakan di SP network.


Sama halnya dgn CCIE Routing & Switching. Jika track ini dianggap mewakili network Enterprise yg besar, maka setidaknya ada Cisco 6500 utk digunakan di ujian lab.


2. Ujian lab seharusnya menggunakan skenario yg nyata


Setelah kita selesai mengkonfigur hardware di lab, lalu apa? Menjalankan ping test? Memeriksa config? Menjalankan show commands? Itu semua tidak cukup utk menguji skill yg nyata!


Ujian lab seharusnya menggunakan traffic generator utk mensimulasi traffic. Dgn adanya traffic di network kita bisa memeriksa, misalnya, jika fitur Quality of Services benar-benar bekerja. Ujian lab juga harus menguji pemahaman kandidat dalam skenario failover, karena ini adalah kebutuhan primer dari setiap Service Provider. Bagaimana kita bisa tahu bahwa fitur Fast Convergence sudah dijalankan dgn benar? Dgn cara memeriksa BFD neighbors menggunakan show command? Dgn cara melihat config dari Non Stop Forwarding dan Graceful Restart?


Cara terbaik adalah dgn mensimulasikan traffic di network dan melihat apakah konfigurasi yg sudah dilakukan, atau skenario jika terjadi failover, akan memberikan dampak ke traffic tsb. Bahkan skill utk memahami dan men set traffic generator itu sangat penting dalam pekerjaan sehari-hari.


3. Ujian lab seharusnya menguji skill dgn cara yg benar


Tidak cukup dgn hanya menanyakan kandidat utk mengkonfigur atau melakukan troubleshooting di ujian lab. Beberapa orang mungkin bisa mendapat soal ujian dgn berbagai cara kemudian menghapal cara menjawab soal-soal tsb.


Cara terbaik utk menguji pemahaman yg mendalam dari seorang kandidat ujian lab adalah dgn cara meminta kandidat tsb utk melakukan verifikasi dari hal yg sudah dilakukan dan menjelaskannya secara detil. Sbg contoh, dalam test fast convergence, kandidat harus memberikan output dari hasil test convergence time ketika terjadi link failure dan menjelaskan mengapa ada perbedaan ketika link down dan link up (ketika link kembali bekerja setelah failure atau yg biasa disebut restorasi). Apakah si kandidat bisa menjelaskan mengapa convergence time bisa berbeda jika PE router crash dibandingkan ketika P router yg crash?


Pertanyaan-pertanyaan sulit dan menjebak spt di ujian CCIE yg sekarang masih tetap penting. Skill troubleshooting masih tetap penting utk diuji di lab. Tapi si kandidat lebih diminta utk bisa menjelaskan “MENGAPA”. Tidak hanya bagaimana cara mengkonfigur dgn cara ini maupun itu, tapi juga harus bisa menjelaskan mengapa traffic di network berprilaku seperti begini maupun begitu ketika fitur tertentu dijalankan maupun ketika terjadi hal-hal spt skenario failure di network.


Tentu saja tidak fair utk selalu membandingkan antara lab “ideal” gue dgn ujian lab yg sudah umum seperti CCIE.


Dalam hal hardware di lab, misalnya. Hardware yg sebenarnya tidaklah murah. Jadi mungkin vendor ujian bisa menyediakan 1 atau 2 lab yg komplit, yg bisa mensimulasikan hardware di dunia nyata utk kandidat dari seluruh dunia. Pendapat gue ttg ini: tidak masalah. Toh ujian lab bisa dilakukan secara remote. Dan ujian lab yg gue jelaskan di atas memang lebih advance dan spesifik utk skill tertentu. Jadi bisa saja Cisco akan membuat “Advanced CCIE lab” dgn fokus skill teknis yg lebih spesifik, dan kandidat harus sudah punya CCIE utk mengambil lab advance ini. Jadi akan ada banyak track yg spesifik, sbg contoh CCIE SP-NGN, CCIE SP-IPTV, CCIE SP-Wimax dan sebagainya. Dengan banyaknya pilihan dari advanced track, maka kandidat bisa memilih mana yg lebih cocok dan membantu dalam pekerjaan sehari-hari, sehingga jumlah kandidat akan didistribusikan ke banyak track utk menghindari antrian yg terlalu panjang.


Jika waktu mengijinkan, semua penjelasan harus dilakukan dgn interview singkat, tidak cukup hanya dgn tertulis. Bagaimana jika English bukan bahasa sehari-hari dari si kandidat? Tidak masalah. Karena ini kan remote lab, jadi bisa dilakukan dari berbagai negara. Sehingga si kandidat bisa mendapat proktor atau penguji di lab yg berbahasa sama. Dan ujian lab ini bisa mengambil waktu 2 hari spt ketika CCIE di tahun 2001 dulu. Hari pertama bisa utk membangun network secara keseluruhan. Hari ke-2 pagi bisa utk menjalankan traffic generator dan verifikasi dari network. Hari ke-2 sore bisa utk sesi troubleshooting. Di akhir setiap sesi selalu ada interview agar si kandidat bisa menjelaskan apa yg sudah dilakukan, dan menjelaskan prilaku dari traffic di network utk skenario yg berbeda-beda.


Tentunya di advanced CCIE track ini tujuan utamanya adalah menyiapkan kandidat yg mampu utk langsung bekerja di dunia nyata setelah mereka lulus, dgn cara memperkecil jarak antara materi yg diujikan di ujian lab dgn skill set yg dibutuhkan di dunia nyata, dan bukan utk mengejar target jumlah orang yg lulus.


Apakah ini semua mungkin terjadi atau hanya mimpi? Siapa tahu. Suatu hari nanti mungkin vendor ujian lab spt Cisco akan membuat track sertifikasi baru di atas sertifikasi CCIE, dan mereka mungkin akan mempertimbangkan semua poin-poin di atas.



Tuesday, September 29, 2009

Cara Engineer Mengatasi Krisis


Gue lagi nulis tentang kekaguman gue terhadap para pekerja kontraktor di blog gue yg lain. Di beberapa project terakhir gue memang banyak bekerja dgn mereka, dan gue sendiri pernah menjadi kontraktor walaupun hanya untuk beberapa bulan. Walau gue belum ada niat untuk keluar dari kerjaan yg sekarang, tapi menjadi kontraktor mungkin merupakan salah satu pilihan suatu hari nanti.


Gue kemudian mencoba menuliskan poin-poin apa saja yg harus dimiliki oleh seorang kontraktor yg berhasil (dalam konteks network engineer atau konsultan teknis). Namun ketika selesai, gue merasa poin-poin itu diperlukan bukan saja untuk menjadi kontraktor, tapi juga buat para karyawan tetap agar bisa terus berkompetisi di perusahaan. Di kondisi krisis ekonomi seperti sekarang seorang Triple CCIE pun bisa digantikan, dan salah satu cara untuk bertahan mungkin dgn memastikan bahwa kita memiliki 10 poin di bawah ini:


1. Bangun reputasi. Yang terpenting, gue pikir, adalah integritas dan bertanggung jawab
2. Fokus ke hasil. Kerjaan harus selesai apapun yg terjadi, dalam kurun waktu yg disetujui
3. Mampu beradaptasi, fleksible, mampu mengatasi tekanan dan perubahan di project yg selalu terjadi secara tiba-tiba
4. Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai tipe project dan di berbagai posisi yg berbeda-beda
5. Bisa bekerja secara independen, bisa juga bekerja sbg bagian dari team
6. Kemampuan komunukasi yg baik, bisa berbaur dan menghadapi customer dari berbagai tipe, di manapun, dan di kondisi seperti apapun
7. Spesialis di satu bidang tapi juga mengerti hal-hal yg lain. Sebagai contoh, expert di Core IP/MPLS network tapi juga mengerti access network, security, physical layer, data center dan sebagainya
8. Mampu bekerja di berbagai posisi: engineer, consultant, architect, project manager dll
9. Selalu update skill, mampu belajar hal baru dgn cepat dan mau belajar terus-menerus. Diperlukan investasi utk bisa selalu update skill, memiliki lab, dan membeli tool-tool penunjang pekerjaan
10. Tahu cara memasarkan diri: social networking, menjaga hubungan dgn customer sebelumnya, selalu meng-update CV dll


Mudah-mudahan bermanfaat. Gue sendiri akan selalu melihat poin-poin ini utk memastikan gue masih bisa berkompetisi di kondisi seperti apapun.



Monday, August 17, 2009

Project Riyadh


Ini adalah minggu ke-6 gue mengerjakan Project Riyadh dan mudah-mudahan minggu yg terakhir. Waktu gue diberi tahu untuk terlibat di project ini scope nya adalah: memimpin team untuk memperbaiki design dgn melakukan migrasi 15000 VPN customer dalam waktu 3 minggu. Waktu itu pikiran gue hanya terfokus ke angka-angka tsb, karena dgn melakukan perhitungan matematis sederhana jika mengasumsikan team bisa bekerja tanpa berhenti maka ada 700 customer yg harus di migrasi setiap malam.


Ketika gue mendarat di Riyadh minggu kedua bulan Juli kemarin gue menyadari bahwa tantangan utamanya bukan me migrasi customer, sebanyak apapun per malam. Tidak ada informasi yg jelas ataupun dokumentasi ttg kondisi infrastruktur network dan network services. Setiap project migrasi network sangat tergantung pada informasi. Informasi ttg kondisi network yg sekarang. Informasi ttg network yg baru setelah migrasi. Kemudian kita harus membuat jembatan yg menghubungkan antara network yg sekarang dgn network yg baru. Kita harus membuat metodologi dan prosedur untuk memastikan masa transisi berjalan lancar. Pendekatan yg tepat sehingga proses migrasi tidak akan mengganggu bisnis sehari-hari.


Tanpa informasi yg cukup, sangat sulit untuk bisa membuat prosedur yg benar. Tanpa informasi yg benar, metode dan proses yg direncanakan bisa salah total. Tanpa informasi, tidak ada jembatan.


Untungnya gue dikelilingi oleh engineer-engineer terbaik di team. Gue masih inget Harry Stamper pernah bilang “I’m only the best because I work with the best”. Seperti klaimnya para Joe’s: when all else fails, we don’t. Ketika team yg lain mungkin akan menolak mengerjakan sesuatu dgn sangat terbatasnya resource, tidak adanya informasi dan juga target yg sangat singkat, gue dan team memutuskan untuk melanjutkan project sebaik mungkin.


Gue melakukan banyak kesalahan di minggu pertama, tapi dgn melakukan kesalahan gue juga belajar banyak hal ttg kondisi infrastruktur network yg sekarang. Setup customer sangat unik sehingga tidak mungkin proses migrasi di simulasikan di lab. Gue harus memimpin eksekusi migrasi dan membangun prosedur di saat yg bersamaan. Gue belajar bagaimana cara melakukan migrasi dgn cara melakukannya secara langsung. Rata-rata engineer di team gue bekerja lebih dari 16 jam sehari. Dan setelah beberapa minggu, akhirnya gue berhasil membuat proses migrasi, metode dan prosedur yg komplit, yg semuanya di dokumentasikan. Dgn adanya dokumentasi yg benar ttg proses migrasi membuat siapa saja akan bisa melanjutkan kerjaan gue meskipun gue sudah tidak ada lagi di sini.


Project ini mungkin tidak akan mencapai tingkat teratas dari daftar project yg gue sukai tapi gue tetep senang karena team yg gue pimpin berhasil melakukan sesuatu yg sempat dikatakan tidak mungkin dan tidak masuk akal. Di project ini gue harus menjadi network architect, technical lead, engineer yg juga ikut ngoprek dan megang console, sampai ke tingkat project manager buat mengalokasikan resource, mengatur jadwal dan lain-lain. Gue memang butuh waktu lebih dari 3 minggu, dan kemungkinan project ini baru selesai minggu depan. Tapi gue mengkomunikasikan ini ke customer, bahwa karena sangat sedikitnya informasi maka resiko di project harus dibagi. Dan salah satu resiko adalah waktu yg dibutuhkan menjadi lebih lama, terutama karena gue menemukan bahwa ada banyak network service lain yg harus di migrasi selain VPN customer. Gue bukan tipe orang yg suka membuat alasan. Jadi gue terus terang bilang ke customer ttg semua tantangan di project ini. Dan dgn bekerja sbg satu team, apapun mungkin dilakukan.


Kemarin bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Gue juga berharap hari kemerdekaan gue dari project ini akan segera datang.


Buat yg mengikuti blog gue tentu tahu kalo gue harus melakukan hal lain yg sangat penting minggu depan. Karena tekanan yg sangat tinggi dari Project Riyadh, gue tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan diri buat minggu depan. Tapi gue akan mencoba melakukan yg terbaik, seperti biasa.


Kurang persiapan, ya. Kurang percaya diri, tentu tidak.

Project London, here I come.



Friday, July 3, 2009

17 Again


Di tengah-tengah kesibukan gue menghadapi tekanan project di Saudi, persiapan ujian CCDE yg sulit dilakukan dan sudah mepet, dan berbagai tantangan kehidupan pribadi yg harus gue hadapi, sore ini gue mengambil keputusan untuk membeli drum elekronik Yamaha DTXplorer series.


Dulu gue memang sering latihan main drum tiap hari pas SMA dan sempet beberapa kali manggung di acara sekolahan. Membeli drum baru ini bukan usaha untuk kembali ke usia 17 lagi. Walaupun harus gue akui masa-masa SMA itu mungkin merupakan masa yg terindah. Karena gue tidak terlalu banyak berpikir :) Tidak ada yg namanya CCIE, network, NGN bahkan Internet. Yg ada hanya mencoba bermain musik. Dan jual pesona ke gadis-gadis di sekolah. Dan mencoba menyetir mobil orang tua tanpa bilang-bilang untuk jalan-jalan sore. Ah, masa-masa tidak berpikir.



Walaupun demikian indah, tapi gue tidak hidup di masa lalu. Gue adalah gue yg sekarang karena semua keputusan yg gue ambil di masa lalu. Dan salah satu target baru gue dalam hidup memang untuk kembali bermain drum. Bahkan berencana untuk membentuk rock band, dan bermain di event International seperti Networkers! Kalo gue tidak bisa tampil sbg pembicara teknis di sana paling tidak gue bisa berpartisipasi dgn membuat keributan. Rock your world, I will.


Jadi sekarang gue sedang mencoba merekrut member buat band. Kalo ada yang bisa main gitar listrik atau bass, atau bisa nyanyi, dan tidak keberatan buat maenin Matchbox 20, Goo Goo Dolls, The Killers, U2 dan kadang-kadang Metallica, silahkan kirim resume ke gue.


Oh ya, hampir lupa. CCIE itu penting tapi tidak menjadi keharusan buat melamar :) Paling tidak mengerti format paket protokol BGP, atau IPv6 addressing, atau memahami RFC 2547 gue pikir sudah cukup lah.



Wednesday, June 3, 2009

Take Control Our TV


Ketika Cisco Systems membuat router yg kemudian menjadi produk router komersial pertama di dunia, tujuan utamanya adalah mengkoneksikan network dgn media fisik dan protocol yg berbeda. Saat itu tidak ada niatan untuk membedakan produk router utk berbagai segment yg berbeda, misal untuk Service Provider atau Enterprise. Hasilnya adalah produk-produk router tanpa ada pemisahan yg jelas di spesifikasi teknis untuk segment pasar yg berbeda. Semuanya menjalankan legacy IOS yg sama dan setiap router bisa menjalankan semua fitur walaupun tidak diperlukan.


Untungnya Cisco menyadari bahwa tidak ada satu produk untuk menjadi solusi dari semua kebutuhan. Sebuah project rahasia mulai dijalankan di akhir tahun 90-an untuk membuat next generation router dgn arsitektur hardware baru dan juga operating system yg baru. Ketika Cisco CRS-1 diluncurkan bulan Mei 2004 jelas terlihat bahwa produk ini adalah jawaban dari kebutuhan para Service Providers untuk core router yg handal, memiliki performance tinggi dan skalabilitas. Dan produk yg baru saja merayakan 5 tahun peluncuran bulan lalu itu terus berhasil mengalahkan ekspektasi dan sudah digunakan di lebih dari 300 service providers di dunia.


Setelah berhasil membuat suatu produk seperti ini, apa langkah selanjutnya? Tentunya berusaha membuat produk lain dgn cara menggunakan teknologi yg sudah berhasil dikembangkan. Arsitektur hardware dan IOS XR yg sudah terbukti kembali digunakan di produk baru Cisco ASR9000 router. Gue pribadi sangat bersemangat dgn produk ini karena tidak saja Cisco berhasil meluncurkannya di tengah krisis ekonomi global (ada beberapa produk lain yg sudah dibangun selama bertahun-tahun tapi harus dibatalkan karena krisis, dan mungkin kita harus menunggu kondisi ekonomi untuk membaik sebelum bisa melihat inovasi-inovasi baru lagi) dan juga ASR9000 menggunakan arsitektur hardware yg mirip dgn CRS-1 yg sudah terbukti di banyak production network.


Cukup sudah ngomongin sejarah, saatnya untuk membahas poin utama di tulisan gue ini.


Seperti kita tahu kebutuhan akan IP Video services menjadi faktor utama untuk mengembangkan banyak teknologi. Kita hidup di jaman High Definition di mana kualitas gambar DVD pun sudah tidak cukup. Dan kita mau video tsb bisa dikirim ke TV kita di rumah melalui network. Dulu kita sudah cukup puas dgn YouTube tapi sekarang kita ingin lebih. Kita mau kualitas yg lebih tinggi. Kita mau agar bisa menonton film secara utuh. Kita ingin punya kontrol kapan dan di mana kita mau menonton film. Video harus selalu tersedia kapan saja dan di mana saja selama kita masih terkoneksi dgn network.


Ini berarti kita memerlukan network dgn performance tinggi untuk bisa mengirim video. Kita harus memastikan paket-paket digital dari video bisa di switch secepat mungkin oleh network. Kita butuh storage yg semakin besar buat menyimpan video. Dan jangan lupa paket video ini harus berkompetisi dgn paket jenis lain di network. Ini berarti fitur Quality of Services harus bisa digunakan untuk untuk berbagai tipe paket dan menjamin service ini.


The Buggles pernah bilang Video Killed the Radio Star. Tapi saat ini video juga membunuh bandwidth, membuat infrastruktur network dan router-router bekerja di performance maksimum, dan memenuhi penyimpanan di storage kita dgn cepat. Dan Cisco adalah pemimpin industri di service ini dgn memiliki semua produk yg diperlukan untuk memberi end-to-end video service.


Ketika vendor-vendor lain sibuk mengkampanyekan bagaimana mereka bisa dengan cepat membawa fitur-fitur yg bekerja secara independen ke market, Cisco sudah melakukan hal yg jauh lebih maju. Tidak saja Cisco bisa menyediakan semua produk yg diperlukan untuk membangun solusi yg komplit, tapi juga mereka menunjukkan bagaimana solusi ini bisa dibangun berikut dgn hasil test yg dilakukan oleh third-party testing vendor.



Light Reading dan EANTC kemaren mengeluarkan laporan tentang bagaimana mereka menguji Cisco’s IP Video Service Delivery network. Test nya meliputi: the high availability with sub-second failover time for all network services, in-line video quality monitoring, massive scalability of IP video services and storage area network solutions and virtualization. Produk yg digunakan di dalam solusi adalah Cisco CRS-1, ARS9000, Cisco 7600-S dan Nexus.


Hasilnya adalah sebagai berikut:


- 8,188 multicast groups were replicated across 240 egress ports in a point of presence (PoP), showing that Cisco could serve 1.96 million IP video subscribers in a single metro PoP
- Accurate in-line video monitoring was demonstrated for video distribution and contribution over IP
- Sub-50 millisecond failover and recovery times were shown for video distribution and secondary distribution networks using, for the first time in a public test of Cisco equipment, point-to-multipoint RSVP-TE
- No video quality degradation in the face of realistic packet loss in the network
- Excellent quality of service (QoS) enforcement in Cisco’s new ASR 9010 router for both fabric oversubscription and head-of-line blocking
- Hitless control plane failover for converged network


Seperti gue pernah bilang, TV is evil. Tapi on-demand TV bukan. Karena sekarang kita yg pegang kontrol TV kita sepenuhnya.


Silahkan membaca hasil laporan dari test tsb.



Tuesday, March 31, 2009

Pendaftaran CCDE Practical Exam Dibuka!


Pendaftaran untuk CCDE practical lab sudah dibuka mulai tanggal 1 April. Hanya ada 3 tempat di dunia: Chicago, London atau Hong Kong. Ujiannya sendiri masih utk tanggal 26 Agustus 2009.


Cara mendaftar:
1. Lulus ujian CCDE qualification 352-001 exam
2. Punya account di pearsonvue.com (pastinya dong, soalnya pas mau ujian CCDE qualification harus bikin)
3. Klik link di Cisco Learning Network.
4. Klik salah satu lokasi di Registration Steps poin no.2: Chicago, London atau Hong Kong.
5. Lokasi yg dipilih akan me-redirect kita ke website pearsonvue, login, pilih 352-011 CCDE Practical, trus ikutin petunjuk buat bayar.


Buat orang Indo, yg murah sepertinya ke Hong Kong (ada jetstar airways, dan tidur bisa di hotel yg murah) dan juga tidak perlu Visa. Kalo ada yg mau bareng ama gue pilih London :)


Tempat sangat terbatas, jadi yg tertarik silahkan register secepatnya.