Saturday, June 14, 2008

Inspired by Rossi


Sudah lama gue mengikuti balapan Valentino Rossi di MotoGP. Tapi mungkin baru tahun ini gue berusaha menonton setiap grand prix, walaupun itu membuat gue harus nonton di hotel, di Airport sampai di rumah teman. Apalagi semenjak gue tidak meneruskan kontrak apartemen di Singapore gue menjadi gelandangan setiap kali berada di negara home based gue itu.


Banyak hal yg gue pelajari dari Rossi, seperti yg tertuang di buku autobiography nya. Salah satu quote yg gue suka: “When I put on my suit, get on my bike and make my way to the start line, my brain is free of every single thought apart from those directly linked to my riding of the bike. I can isolate everything else, nerves don’t bother me, I don’t even think, once that visor comes down, that my reputation, or my title, or even my career might be at stake.”


Ini merupakan pelajaran berharga tentang bagaimana kita harus fokus dgn hal yg sedang dihadapi, meskipun banyak hal lain yg seharusnya dapat mengganggu pikiran kita. Sama halnya ketika kita sedang mengambil ujian CCIE lab, walaupun banyak tekanan tapi memikirkan bahwa kita harus lulus jika tidak dipecat, atau mengingat-ingat banyaknya uang yg dikeluarkan, atau meratapi kenyataan bahwa kita sudah tidak lulus berkali-kali padahal ada junior kita yg satu kali ujian juga lulus, itu sangat tidak membantu. Lebih baik tutup visor dan kerjakan saja.


Hal lain yg gue suka dari juara dunia 7 kali ini adalah ketika Rossi memutuskan untuk pindah dari Honda ke Yamaha di akhir tahun 2003. Pada saat itu Honda begitu superior karena menjuarai Grand Prix selama berturut-turut dan banyak orang bilang kalau ingin menang itu harus pakai motor Honda. Rossi membuktikan bahwa yg terpenting itu tetap raider, man behind the wheel, dan bukan motornya sendiri. Dia pindah ke Yamaha yg pada saat itu merupakan team yg tidak diperhitungkan, untuk kemudian menjadi juara dunia tahun 2004 dan 2005.


Mungkin karena terlalu terpengaruh dgn Rossi atau mungkin karena terlalu banyak menonton MotoGP maupun World Superbike di TV, akhirnya gue memutuskan untuk membeli Kawasaki Ninja 250R yg baru di release bulan lalu. Nama gue masih berada diurutan ke sekian di daftar pemesan sih, dan mudah-mudahan bulan depan motornya sudah bisa gue dapatkan.


Ada yg bertanya, buat apa gue beli motor di Indo sedangkan gue sendiri selalu traveling di luar? Bahkan bulan ini gue bakal menjalani yet another long journey di mana gue harus terbang dari KL ke Singapore terus ke Vietnam untuk kemudian ke Taiwan dan kembali lagi ke KL. Dalam perjalanan itu juga gue harus melakukan migrasi buat 2 customer. Dan ini berarti gue tidak akan ada di Indo sampai akhir bulan.


Jawabannya karena gue gak mau menunggu. Gue gak mau menunggu sampai kerjaan gue stabil kayak orang-orang kebanyakan baru mau menikmati hidup. Gue gak mau bilang nanti saja tunggu gue menetap baru mulai beli ini itu. Gue mau menikmati setiap saat yg ada. I want to live every second of my life. Dan paling tidak nanti setiap kali gue pulang ke Bandung ada hal lain yg gue lakukan di luar kerjaan gue.



Kalo kata Kung Fu Panda: Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. But today is a gift. That is why they call it a present.


Gue juga udah pesen buku Performance Riding Techniques untuk belajar bagaimana caranya menikung seperti Rossi maupun melakukan late braking. Ini motor memang cuman 250 cc dan powernya pun jauh dari kelas MotoGP 250 nya Doni Tata, tapi kita harus selalu mulai dari langkah satu kan? Siapa tahu ini jadi karir gue berikutnya kalo udah bosen jadi Triple CCIE ceile


“Just think, what if I had never raced motorbikes. How things would have been so different. Just think, what if I had never tried it.”
- Valentino Rossi -



Saturday, May 3, 2008

Sebuah Pencerahan


Bukan perusahaan yg paling penting.
Yang terpenting adalah orang-orang di dalam perusahaan.
Orang-orang di perusahaan bisa mencapai hasil yg luar biasa tapi juga bisa membawa kegagalan.


Perusahaan tidak bisa mengajarkan hal baru.
Setiap orang yg direkrut di posisi menengah lah yg diharapkan membawa ide-ide baru ke perusahaan.
Orang-orang ini yg diharapkan bisa membawa nilai-nilai baru,
Yang harus membuat prosedur baru, memperbaiki proses, meng upgrade tools, dan membuat perubahan.

It’s the people inside the company who matter. It’s the people who change the way the world works, lives, plays, and learns.


Semua yg perlu diketahui untuk menjadi top-notch consultant sudah dipelajari bahkan sebelum masuk ke perusahaan.
Dan ini adalah pencerahan baru untuk hari ini.



Monday, March 31, 2008

Once a Traveler



You wake up at Kuala Lumpur, Bangkok, Singapore. You wake up at Sydney, Bali, Hanoi. San Jose, Hongkong, Jakarta, Ho Chi Minh. Lose an hour, gain an hour. This is your life, and it’s ending one minute at a time. You wake up at Changi International. If you wake up at a different time, in a different place, could you wake up as a different person?
(Fight Club, modified with the places I visited in the last few months)


I’m a traveler as well as a consulting engineer, a dreamer, a blogger, a backpacker, and a storyteller.


My traveling experience:
Hotel: Shangri-La (80%), Hilton, Hyatt, Ritz Carlton, Intercontinental, Swissotel, Sheraton, Le Meridien, Four Season, Holiday Inn, Westin, Crown Plaza, Conrad, Sofitel, Excelsior
Airline: Singapore Air (90%), Malaysia Air, Thai Air, Air Asia, Garuda, Jet Star Asia/Valuair, Emirates Air, Vietnam Air
Membership: Singapore Air KrisFlyer/Star Alliance Elite Gold, Shangri-La Gold, Hyatt Gold, Starwood Preferred Guest
Privileges: Airport business lounge, priority check-in/luggage, upgraded hotel room, free staying in hotel, miles
Travel style: Light. First priority is for passport, wallet and mobile phone. Second priority is for Cisco badge, notebook, chargers, iPod. Third, my backpack where I keep all the rest. In fact, everything that I need for living outside the country I put it inside this North Face backpack
Favorite airport: Changi International
Favorite cities: San Francisco, Amsterdam, Sydney, Dubai, Bangkok
Best flying experience: A380 to Sydney
Longest flying time: San Francisco - Sydney (via Hongkong and Singapore)
Longest stay in city during one visit: 3 weeks (Sydney)


I decided to go full mobile even in Singapore. I decided to abandon my apartment room. I decided to stay in the hotel everytime I need to be in my base station, most probably in a backpacker hotel. According to my calculation if I need to spend only a week every month in Singapore in average it’s much cheaper to stay in the hotel that is closer to office than paying monthly room with taxi since my current room is on the far west side of the island. And obviously it will be more fun.


This is my life, and it’s ending one minute at a time.



Friday, March 7, 2008

How to Become a CCIE v2


Weekend ini gue ada di Singapore (jarang-jarang nih). Gara-garanya sabtu malam sudah ada schedule buat migrasi di salah satu project gue di KL, tapi karena bertepatan dgn pemilu Malaysia sehingga kegiatannya diundur. Dan pemberitahuan pembatalan ini terjadi di last minute, jadi aja gue tidak sempat merencanakan untuk pulang ke Indo dan terpaksa menghabiskan waktu sendirian weekend begini.


Akhirnya gue memutuskan untuk meng-update “How to Become a CCIE” yg versi pertamanya gue tulis 2 tahun lalu. Untuk mendukung ide tulisan gue sebelumnya supaya orang-orang mau menjadi engineer plus dan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, how-to ini tidak gue translate ke bahasa Indonesia.


In summary:


1. You need to know and believe in the reason why you want to become CCIE
2. Use mid-level certification such as CCNP, CCIP, CCSP, CCVP
3. Build home lab, use emulator to practice R&S and SP track
4. Just pass the written to be able to register for the lab
5. Read, read and read, then practice
6. It may not be required to finish as fast as possible, but can use “do it once, and do it right” strategy
7. Join the community, build a healthy discussion group
8. Learn how to ask the right question, to discussion group or proctors
9. Understand the lab questions, analyze it as a whole and a unit
10. Be skeptical, don’t trust the solution unless you have proved it
11. CCIE is a mind game, always believe that you can pass
12. Enjoy every moment while doing the journey


Please read the english version of How to Become a CCIE v2 in my other blog.



Thursday, January 3, 2008

Internetwork Expert’s CCIE Blog


Blog yg sangat direkomendasikan untuk para calon CCIE:


“This site is dedicated to helping you in your pursuit of becoming a Cisco Certified Internetwork Expert in Routing & Switching, Voice, Security, Service Provider, and Storage. Through this blog you can submit questions to our expert instructors, Brian Dennis - Quad-CCIE #2210, and Brian McGahan – Triple CCIE #8593″



Friday, November 30, 2007

Enjoy Sydney


Sudah sebulan lebih gue berada di jalan. Dua minggu terakhir gue sibuk bekerja di Cisco Proof-of-Concept lab di Sydney untuk ikut menguji produk CRS, termasuk yg multi-chassis. Lucunya, hanya sedikit orang yg percaya kalo gue itu benar-benar kerja selama di Sydney.


Orang selalu mengasumsikan bahwa traveling di luar negri itu identik dengan jalan-jalan dan having fun. It’s fun indeed, tapi definisi fun kan beda-beda. Buat gue, kerja under pressure dgn timeline yg mendesak itu fun. Regardless gue kerja di negara apa. Tentunya orang cuman mencibir kalo gue bilang begini. Terutama karena Sydney banyak tempat-tempat menarik, berbeda dgn San Jose yg merupakan kota kecil yg minim hiburan. Bahkan boss gue sendiri pas nelpon sempat bilang “have fun, enjoy Sydney.”


Karena itu gue sekarang ingin cerita sedikit apa yg sudah gue lihat di Sydney 2 minggu terakhir. Gue sempat ke Bondi beach dan di sana banyak wanita-wanita cantik seperti yg 3 ini:



Banyak wanita berpakaian minim sehingga terlihat punggung-punggung mereka yg terbakar sinar matahari:



Tidak cuman orang dewasa, anak-anak pun ada:



Mereka datang dari berbagai negri, dgn warna rambut yg berbeda-beda: merah, kuning, biru, orange.



Sebagian hanya tidur-tiduran di pasir membentuk barisan:



Sebagian yg lain bermain dgn ombak:



Penjaga pantai sibuk mengawasi dari tempat yg tinggi:



Ribuan orang datang dan pergi setiap hari:



In case you didn’t notice, I was being sarcastic :)


Dua minggu terakhir gue hanya tidur beberapa jam sehari. Pulang dari lab selalu larut malam dan beberapa kali lewat midnight, untuk kemudian kerja lagi di hotel. Weekend pun gue pergunakan untuk nongkrong di lab atau kerja di hotel. Tentu saja tidak akan ada yg percaya jadi gue juga tidak perlu berlarut-larut menjelaskan.


Minggu ini ada beberapa teman dari Indonesia yg akan datang. Sepertinya gue baru bisa jalan-jalan beneran beberapa hari ke depan.


Enjoy Sydney!



Sunday, November 4, 2007

Antara Specialist dan General Purpose


Untuk menjadi expert, seseorang harus menjadi specialist di satu bidang. Ini berarti orang tsb harus fokus dan mendedikasikan diri di scope area tertentu. Kelemahannya, orang ini akan sangat expert di suatu bidang tapi mungkin idiot di bidang ya lain. Kalo dari segi network engineering, menjadi spesialis di satu bidang membutuhkan pertaruhan apakah bidang tsb masih akan ada di masa depan. Jika tidak, maka siap-siap untuk jobless atau pindah ke bidang yg lain. Start over. Dan sudah pasti tidak jadi expert lagi untuk sementara.


Orang yg bekerja sbg network consultant atau solution architect adalah orang-orang yg gue sebut General Purpose. Karena mereka biasanya tahu banyak area di networking, berbagai product dari verndor yg berbeda, dan untuk true architect sangat penting untuk mengetahui cara mengintegrasikan itu semua. Mereka general purpose karena bisa bekerja di area atau teknologi networking apa saja. Tidak perlu kuatir masalah kerjaan. Tapi satu hal yg jelas, tidak akan pernah bisa menjadi expert seperti yg memilih untuk menjadi specialist.


Mana yang lebih baik? Tergantung kita ingin jadi apa.


Yang jelas, kalo melihat dari apa yg sedang gue jalanin sekarang, kalo gue ingin jadi consultant atau architect, maka gue harus terus mengambil semua CCIE track sampai tamat. Karena sampai sekarang gue sudah tahu networking untuk area Enterprise (CCIE track R&S), Network Security (track Security), dan brief technology di Service Provider (CCIE track SP). Dengan mempelajari area Enterprise Voice (CCIE Voice) dan Data Center (CCIE Storage) maka gue akan menjadi a complete toolset, seseorang yg tahu berbagai area networking. Ditambah lagi skill wireless network, operating systems, network and security management sampai ke kompetensi gue di consulting, pre-sales skills dan technical project management.


Kesempatan gue untuk ambil CCIE lagi? Sangat besar. Cisco akan membayar semua expense gue untuk jadi CCIE, gue punya materi internal training, semua buku, lab yg walaupun tidak komplit tapi bisa digunakan (atau bisa juga online rental lab di Internet dan dibayarin Cisco), biaya ujian dan semua perjalanan yg akan ditanggung. Zero percent expense buat jadi orang Indonesia pertama yg punya 4 atau 5 CCIE. Dan begitu lulus, Cisco akan memberikan kompensasi uang tunai $. Tapi hanya itu. Karena begitu seseorang masuk Cisco tidak begitu kelihatan manfaat punya banyak CCIE (baca: punya CCIE itu tetap penting di Cisco, tapi punya multiple CCIE tidak). Yang paling penting adalah performance kita dalam bekerja. Multiple CCIE penting kalo kita mau jadi General Purpose. Dan mengambil CCIE akan membuat gue tidak akan fokus. Ini juga berarti gue tidak kan menjadi specialist di bidang apapun. Dan ini membuat gue tidak akan pernah mencapai level expert.


Jadi keliatannya gue tidak akan meneruskan CCIE journey, jika masih berkeinginan untuk jadi expert spt yg gue tulis di profile blog ini.
Unless someone can give me a very good reason to do so.



(Golden Gate Bridge, San Francisco)